Facebook
RSS
Showing posts with label Life. Show all posts
Showing posts with label Life. Show all posts

Penyebab Munculnya Mimpi

Penyebab Munculnya Mimpi
Mimpi adalah fenomena unik. Bagi pemerhati pergerakan pikiran tentu paham penyebabnya. Sebetulnya ada 2 faktor penyebab timbulnya mimpi.

Faktor pertama adalah internal, berkaitan dengan diri sendiri, baik secara fisik maupun mental.
Faktor kedua adalah eksternal, berkaitan dengan luar faktor2 alam ataupun makhluk lain.

Untuk faktor internal, penyebabnya adalah

1. Kesehatan jasmani dan keseimbangan elemen tubuh.
Misalnya: orang sakit demam tinggi cenderung mimpi yang aneh2. karena pikiran ingin menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi di dalam tubuh, berhubung kesadaran orang sakit cenderung lemah maka pikiran menggunakan media visual untuk memperjelasnya. Pikiran ingin menggambarkan betapa kacaunya sistem di dalam tubuh, maka muncullah bentuk2 yang kacau dan tidak beraturan dsb. Dominan unsur angin menimbulkan aneka mimpi2 gelisah yg tidak nyambung. Dominan unsur padat menimbulkan aneka mimpi tertekan dan ketakutan, lorong-lorong dsb. Dominan unsur air menimbulkan aneka mimpi percintaan atau komunikasi dg orang2 serta tempat2. Dominan unsur api menimbulkan mimpi melayang, heroik, perkelahian, dan perdebatan dsb.

Bila kita mengalami sakit, itu berarti elemen tubuh tidak seimbang dan terjadi dishamonisasi, mimpi yang timbul bisa beraneka macam tergantung unsur dominan atau penggabungannya.

2. Perubahan aktifitas organ.
Misalnya: bila sebelum tidur kita banyak minum dan lupa pipis, maka saat subuh/tengah malam kandung kemih penuh dan kita kebelet pipis. saat itu karena kita sedang tidur pulas dan kesadaran lemah, maka pikiran memperjelasnya dengan membuat gambar seolah kita berada dibawah pohon pisang sedang menurunkan resleting. coba bayangkan apa yang terjadi bila itu tidak segera disadari? JEMUR KASUR DAN CUCI SELIMUT. atau misalnya kaki kita bergerak secara mendadak, maka kita akan bermimpi seperti tersandung, jatuh dsb.
Bila kita habis kelelahan berjalan jauh, maka mimpinya seolah dikejar anjing/orang dan tidak bisa berlari. Bila kita habis kelelahan bekerja, maka mimpinya seolah dipukuli orang atau memikul benda berat dsb.[b]

3. Ingatan-ingatan. Bila ada kejadian yang cukup mengesankan dalam kejadian sehari2, itu akan terekam dan dapat muncul sebagai mimpi. Sebagian adalah ingatan kehidupan lampau (bagi yang meyakini reinkarnasi, bila tidak anggap saja bunga tidur). sebagian adalah kejadian yang dialami belum lama.

4. Emosi2 berupa ketakutan, harapan, kebahagiaan, kesedihan.
Aktifitas emosi yang kuat dapat muncul ke dalam mimpi. penggambarannya bisa berlawanan ataupun sejalan dengan emosi kuat yang sedang mempengaruhi kita. Misalnya kita berharap memiliki ferrari, yang muncul di mimpi malah gerobak/delman dsb. Bila kita menyembunyikan suatu kebenaran dan takut diketahui, maka mimpinya malah kebenaran itu diungkap oleh kita sendiri dsb.


Faktor2 eksternal penyebabnya adalah:
1. Aktifitas sekitar tempat tidur, lingkungan, dan alam.
Siapakah yang memberitahukan saat kita ada di tepi tempat tidur dan akan terjatuh? mendadak kita bermimpi sedang dipinggir jurang dalam atau tepi sungai. dan bila kita melompat maka kita terjatuh dari ranjang. pikiran tanpa disadari sudah merekam aktifitas dan membuat ukuran2 sebelum kita tertidur. saat ada orang mengetuk pintu maka kita bermimpi ada yang memanggil kita. saat jendela terbuka dan ada suara berderik maka kita bermimpi mendengar mercon/bunyi berisik lainnya. saat kilat menyambar2 maka kita bermimpi melihat cahaya dari kejauhan. dsb

2. Tanda alam dan makhluk halus.
Untuk yang makhluk halus misalnya kita bermimpi kedatangan orang tua atau keluarga yang sudah meninggal dan mereka minta kita melakukan sesuatu. tetapi ini juga harus dibedakan dengan halusinasi yang dipicu oleh ketakutan kita akan situasi di tempat tertentu atau seseorang dsb.

Thanks to bro sumedha

Tradisi Puasa Pada Peradaban dan Agama Lain

Tradisi Puasa Pada Peradaban dan Agama Lain
H. Sismono dalam bukunya yang berjudul Puasa pada Umat-umat Dulu dan Sekarang menyebutkan, puasa sudah dikenal oleh bangsa dan kaum yang hidup sebelum datangnya Islam. Seperti puasa yang dilakukan oleh bangsa Mesir kuno, Yunani kuno, Romawi Kuno, Zoroaster, Majusi, Yahudi, Nasrani, Cina kuno, Jepang kuno, Buddha, Hindu, Manu, dan Konghucu.

Caranya puasanya pun bermacam-macam. Tentu saja, tujuan dan motivasi puasa setiap agama pun berbeda-beda. Semua itu menunjukkan bahwa puasa merupakan tradisi dan kebiasaan dalam setiap agama dan umat-umat terdahulu. Berikut ini tradisi puasa pada peradaban dan agama lain:

BANGSA MESIR

Pemeluk agama Mesir kuno (penyembah berhala) melakukan puasa untuk menghormati tuhan matahari dan Sungai Nil sebelum adanya tuhan-tuhan lainnya. Pengabdian kepada mata dan Sungai Nil tersebut karena manfaat yang mereka rasakan.

Orang-orang Mesir kuno juga melakukan puasa agar bisa menjalin hubungan dengan para dewa. Karena itu, mereka mendirikan kuil-kuil pemujaan. Upacara pemujaan terhadap para dewa ini secara teoretis dibawakan oleh Sang Raja, tetapi kenyataannya sering juga dibawakan oleh deputi atau para pendetanya.

YUNANI KUNO

Puasa juga dikenal di kalangan pemeluk agama Yunani kuno. Puasa tersebut dilaksanakan oleh laki-laki maupun perempuannya. Bagi kaum perempuan Yunani kuno, puasa sangat dipentingkan sebagai kewajiban yang datang dari para pendeta atau mereka wajibkan sendiri.

Orang-orang Yunani kuno mengambil tradisi puasa orang-orang Mesir kuno, kemudian mereka mewajibkan puasa tersebut di kalangan mereka.

ROMAWI KUNO

Pemeluk agama Romawi kuno sebagaimana halnya dengan bangsa Yunani (Hellas) menganut politeisme, yakni menyembah banyak dewa. Mahadewa Yunani bernama Zeus, sedangkan mahadewa bangsa Romawi adalah Yupiter.

Orang-orang Romawi kuno berpuasa pada hari-hari tertentu, terutama ketika menghadapi musuh, dengan maksud agar memperoleh kemenangan. Mereka biasa berpuasa pada Oktober yang biasa disebut puasa Ceres. Kebiasaan ini kemungkinan pengaruh dari orang-orang Yunani Hellenis yang berpuasa dalam rangka memuja dewa Attis.

YAHUDI

Umat Yahudi atau Bani Israil adalah keturunan Ya’qub putra Ishaq putra Ibrahim. Ya’qub itulah yang biasa dipanggil Israil. Umat Yahudi adalah umat yang taat dalam kepercayaan mereka terhadap Taurat, taat beribadah,dan kaya dengan upacara keagamaan.

Puasa pada umat Yahudi tidak kita dapati uraian secara rinci dan jelas dalam kitab Taurat (Perjanjian Lama), kecuali sekadar pujian dan anjuran saja kepada yang melakukannya. Mereka berpuasa, sebagaimana puasa yang dilakukan oleh Nabi Musa sewaktu menerima wahyu di Bukit Sinai.

ZOROASTER

Kebiasaan berpuasa juga dikenal di kalangan para pemeluk agama Zoroaster. Agama ini dikenal pada abad ke-8 SM di Persia. Dikalangan pemeluk Zoroaster dikenal puasa yang disebut ‘puasa tolak bala bencana’ (deprecated fasting).

Namun, dalam kitab al-Milal Wan-Nihal terdapat keterangan bahwa agama tersebut melarang seseorang berpuasa. Karena, agama Zoroaster mengajarkan agar seseorang bekerja keras, sedangkan puasa hanya akan melemahkan tenaga untuk bekerja. Zoroaster juga melarang orang mengurangi makan dan minum. Bahkan, memerintahkan orang memakan makanan yang baik-baik, sehat dan sempurna.

MANU

Puasa juga dikenal di kalangan para pemeluk agama Manu, sebuah keyakinan yang lahir pada abad ke-3 SM di wilayah Babilonia. Manu, seorang bekas pendeta Nasrani, mengajarkan kehidupan zuhud, hidup serba sederhana dan harus menyingkirkan diri dari pergaulan masyarakat, bahkan tidak perlu membangun sesuatu pun.

Umumnya para pengikut Manuisme menganggap puasa sebagai bentuk ibadah yang suci dan luhur. Puasa menurut Manuisme, merupakan ajaran yang tampak sebagai usaha menekan nafsu-nafsu jahat.

CINA KUNO

Masyarakat Cina kuno yang menganut ajaran Taoisme dan Konfusianisme juga mengenal tradisi berpuasa. Orang-orang Cina kuno berpuasa pada hari-hari biasa, sedangkan pada hari-hari tertentu seperti ketika terjadi banyak fitnah dan bencana, mereka mengharuskan diri berpuasa, dengan tujuan agar terhindar dari fitnah dan bencana itu.

Sementara itu, orang-orang Tibet membiasakan menahan diri dari makan dan minum selama 24 jam berturut-turut tanpa makan sedikit pun, sampai-sampai air liur pun tidak boleh ditelan, dengan tujuan magis maupun religius.

SINTO

Menurut catatan kuno, agama Shinto di Jepang dikatakan orang sebagai agama yang para penganutnya dikenal sebagai ‘orang-orang yang berpantang’. Siapa saja tidak boleh menyisir rambut, mencuci, makan daging, maupun mendekati wanita-wanita. Kedudukan badan hukum alim-ulama yang turun-temurun dan disebut dengan Imbe, berfungsi untuk menyiapkan selamatan-selamatan bagi para dewa, karena telah melakukan pantang dari segala pengotoran atau segala hal yang tidak suci.

KRISTEN

Di dalam kitab Injil atau Perjanjian Baru yang diimani oleh umat Kristen, baik itu Katolik Romawi, Kristen Protestan, maupun Kristen Advent memang tidak kita dapati ajaran tentang puasa secara jelas dan rinci, selain sekadar sebutan bahwa puasa sebagai bentuk ibadat yang terpuji dan sanjungan bagi orang-orang yang berpuasa.

HINDU

Ritual berpuasa juga dikenal di kalangan para pendeta Hindu (Brahmana). Para pengikut Brahmanisme memang dikenal sangat fanatik, sangat patuh terhadap perintah puasa yang dibuat oleh para pendeta Brahma. Sejak masa kanak-kanak para pengikut Brahmanisme telah mengenal aturan puasa yang sangat keras. Terutama pada aliran Yogi, ada yang berpuasa sampai 10 hari atau 15 hari bahkan lebih lama lagi dari itu, tidak memakan sesuatu apa pun, atau paling tidak hanya minum beberapa tetes air.

BUDDHA

Puasa dalam ajaran Buddhisme berhubungan dengan perbuatan-perbuatan normal (biasa) yang digemari oleh kalangan kebiaraan, yaitu tidak makan antara pukul 12 siang sampai pagi hari berikutnya. Tetapi, tetap dibolehkan meminum air selama berpuasa. Ini merupakan kebiasaan harian para pendeta Buddha.

TASAWUF

Praktik puasa bagi para penganut tasawuf (kaum sufi) merupakan praktik ibadah yang tidak asing, bahkan merupakan salah satu dari macam-macam disiplin ibadah dan syariat yang harus dilaksanakan dengan sepenuh ketaatan, kecintaan, keikhlasan, kezuhudan, ketakwaan, keimanan, kerendahan diri, dan penuh harap. Sehingga, bisa dikatakan puasa bagi kaum sufi merupakan persiapan dan jalan menuju makrifat. Untuk itu, mereka melaksanakan puasa, baik yang wajib maupun yang sunah.

KEBATINAN

Puasa di kalangan penganut kebatinan di Indonesia sangat banyak variasinya. Begitu juga dengan dasar dan motifnya, sesuai dengan macam alirannya. Misalnya, puasa pati geni yang dilakukan selama sembilan hari penuh. Selama delapan hari berpuasa biasa dengan mberbuka sedikit ketika terbenam matahari. sedangkan pada hari kesembilan tidak berbuka puasa hingga hari berikutnya pukul 09.00 baru berbuka. Mereka pantang makan lauk pauk, makan sayuran, dan lainnya. Serta ada pula aliran kebatinan yang mengajarkan puasa tiap Senin dan Kamis.

Kopi dan Teh Indonesia Idola di Maroko

Kopi dan Teh Indonesia Idola di Maroko

Kopi dan teh asal Indonesia sangat digemari rakyat Maroko. Sayangnya belum digarap dengan serius dan profesional oleh petani dan pemerintah. Pernyataan itu dikemukakan Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko, Tosari Widjaja, saat berkunjung ke pabrik teh dan kopi, PT Gunung Subur di Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar,
Jeteng, kemarin.

“Masyarakat Maroko itu dikenal peminum, bukan minuman beralkohol, melainkan teh dan kopi. Dari total teh dan kopi yang mereka konsumsi, 60% di antaranya berasal dari Indonesia,” jelas Tosari. Kehadiran Tosari di PT Gunung Subur ini untuk menyerahkan
penghargaan karena menerima seorang pemuda Maroko, Reda Baidouri, untuk bekerja magang. Sebuah bentuk program kerja sama yang dijalin Kedutaan Besar RI dengan Kerajaan Maroko.

Ratusan Bocah Pelempar Batu di Penjara Israel

Ratusan Bocah Pelempar Batu di Penjara Israel

Selama lebih lima tahun terakhir, militer Israel telah menahan 853 pemuda dan anak-anak Palestina. Mereka ditangkap militer Israel dengan tuduhan melemparkan batu ke tentara Israel, diinterogasi, lalu kebanyakan mereka dipenjarakan.

“Hanya satu anak Palestina yang dibebaskan dari tuduhan menyambit tentara Israel dengan batu sepanjang 2005-2010,” demikian rilis kelompok hak asasi manusia (HAM) yang berbasiskan di Yerusalem, B’Tselem, seperti dikutip harian Israel, Haaretz.

Laporan B’Tselem berdasarkan data yang diperoleh dari juru bicara militer Israel mengenai anak-anak di bawah umur yang ditahan hanya karena melemparkan batu ketentara Israel. Tak ada tuduhan kejahatan kriminal lain atas mereka, selain lantaran menyambit tentara.

Laporan B’Tselem setebal 70 halaman itu memerinci anak-anak yang diadili sepanjang 2005 hingga awal 2011, termasuk 34 anak-anak berusia 13 tahun atau bahkan lebih muda lagi. Dalam kasus terburuk, kelompok HAM itu menyebutkan seorang anak berusia delapan tahun yang diciduk dari wilayah Tepi Barat pada Februari lalu.

Tentara melepas bocah itu setelah diketahui bukan dia sasaran mereka, melainkan kakak bocah itu yang setahun lebih tua. Serdadu Israel itu kemudian memborgol bocah sembilan tahun itu, menutup matanya, dan membawa ke pusat penahanan untuk diinterogasi selama lima jam. Militer Israel membebaskannya setelah ada pertimbangan bocah itu masih di bawah umur.

Inilah Ilmuwan Muslim Pencipta Terapi Musik

Inilah Ilmuwan Muslim Pencipta Terapi Musik

Dalam peradaban Islam, ada sejumlah ilmuwan yang memiliki kepakaran dalam bidang terapi musik. Di antara mereka adalah Al-Kindi dan Al-Farabi. Seperti apa kiprah mereka, berikut ulasan singkatnya.


Al-Kindi atau al-Kindus adalah ilmuwan jenius yang hidup di era kejayaan Islam Baghdad. Kejayaan Islam saat itu dikawal oleh Dinasti Abbasiyah. Sebanyak lima periode khalifah dilaluinya, yakni al-Amin (809-813), al-Ma’mun (813-833), al-Mu’tasim, al-Wasiq (842-847), dan Mutawakil (847-861).

Kepandaian dan kemampuannya dalam menguasai berbagai ilmu, termasuk kedokteran, membuatnya diangkat menjadi guru dan tabib kerajaan. Khalifah juga memercayainya untuk berkiprah di Baitulhikmah yang kala itu gencar menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dari berbagai bahasa, seperti Yunani.

Al-Kindi Ilmuwan Muslim Pencipta Terapi Musik

Al-Kindi


Ketika Khalifah al-Ma’mun tutup usia dan digantikan putranya, al-Mu’tasim, posisi al-Kindi kian diperhitungkan dan mendapat peran yang besar. Dia secara khusus diangkat menjadi guru bagi putranya. Al-Kindi mampu menghidupkan paham Muktazilah. Berkat peran Al-Kindi pula, paham yang mengutamakan rasionalitas itu ditetapkan sebagai paham resmi kerajaan.

Selama menggeluti ilmu pengetahuan di Baitulhikmah, al-Kindi telah melahirkan 260 karya. Darikarya-karya itu, tampak jelas bahwa al-Kindi adalah seorang yang berilmu pengetahuan luas dan dalam.

Ratusan karyanya itu dipilah ke berbagai bidang, seperti filsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, geometri, kedokteran, astrologi, dialektika, psikologi, politik, dan meteorologi. Dari buku-buku karyanya, terbanyak adalah tentang geometri (32 judul). Filsafat dan kedokteran masing-masing 22 judul. Ilmu logika sebanyak sembilan judul dan fisika 12 judul.


Al-Farabi Ilmuwan Muslim Pencipta Terapi Musik

Al-Farabi


Sosok dan pemikiran al-Farabi hingga kini tetap menjadi perhatian dunia. Buah pikirnya, salah satunya tentang ilmu logika, berpengaruh besar terhadap dunia Barat. Pemikirannya juga memengaruhi Ibnu Sina dan Ibnu Rush.

Al-Farabi atau masyarakat Barat menyebutnya Alpharabius, memiliki nama lengkap Abu Nasr Muhammad ibn al-Farakh al-Farabi. Tak seperti Ibnu Khaldun yang sempat menulis otobiografi, Farabi tidak menulis otobiografi.

Tak ada pula sahabatnya yang mengabadikan latar belakang hidup sang legenda itu, sebagaimana al-Juzjani mencatat jejak perjalanan hidup gurunya, Ibnu Sina.Tak heran, muncul beragam versi mengenai asal-muasal Farabi. Ahli sejarah Arab pada abad pertengahan, Ibnu Abi Osaybe’a, menyebutkan, ayah Farabi berasal dari Persia. Mohammad Ibnu Mahmud Al-Sahruzi juga menyatakan, Farabi berasal dari sebuah keluarga Persia.

Filsuf sekaligus pemikir besar Islam, Ibnu Sina (980-1037) menulis, ia mendapatkan banyak hal dari karya Farabi. Dia bahkan mengaku belajar musik dari Farabi dan mempraktikkannya. ‘’Salah satu perawatan terbaik dan paling efektif adalah memperkuat kekuatan mental dan spiritual pasien, dan memberinya lebih banyak keberanian untuk melawan penyakit,” ujar Sina.

Menurut dia, keberadaan suara sangat penting untuk eksistensi manusia. Suara yang tertata dan teratur memiliki efek mendalam pada jiwa seseorang.

Pengalaman Hidup Tenang tanpa Uang

Pengalaman Hidup Tenang tanpa Uang

Hidup tanpa uang menjadi hal yang kini sulit dijalankan bagi banyak orang. Namun, hal itu tidak dirasakan seorang janda asal Jerman, Heidemarie Schwermer.

Dia telah sukses menjalani hidup selama 15 tahun terakhir tanpa sepeser pun uang. Kisah sukses hidup tanpa uang ini kemudian diabadikannya dalam buku berjudul the Star Money Experiment.

Pekan ini, berita tentang perjalanan hidupnya tanpa uang menjadi salah satu artikel paling banyak dibaca pengunjung Republika Online. Berita yang dikutip dari Sky News itu diunggah Sab tu, 9 Juli, lalu.

Banyak komentar yang dikirimkan pengunjung situs yang beralamat di www.republika.co.id itu untuk berita tentang kisah eksperimen Schwermer.